Tiga tahun kemudian, di sebuah rumah kecil di pinggir desa, seorang pemuda terlihat menyapu pekarangan dengan gerakan santai. Udara pagi yang segar ia nikmati sepenuhnya, sementara bajunya yang sederhana, terbuat dari kain kasar, menambah kesan tenang dari kehidupannya. Di lehernya tergantung sebuah kalung dengan liontin batu yang tampak kusam. Tak jauh darinya, seorang wanita cantik duduk di atas bangku kayu, memandanginya dengan sorot mata penuh perhatian.

"Kepala suku, maafkan aku... Aku benar-benar tak bisa memberikan yang terbaik untukmu," ucap wanita itu dengan nada rendah. Ada sedikit keraguan dalam suaranya. "Kelemahanku—aku yang tak bisa membaca atau menulis—membuatku tak mampu membantu banyak, bahkan mencari uang dengan baik saja sulit. Kehidupan di dunia ini sangat berbeda dengan dunia tempat kita tinggal sebelumnya. Disini segalanya perlu uang."

Tiba-tiba, suara langkah berat mengganggu ketenangan pagi itu. Seorang wanita tua  bernama Huo Li, bertubuh gemuk dengan banyak perhiasan di tubuhnya muncul, diikuti oleh pembantunya seorang wanita dengan membawa bungkusan besar yang terbuat dari kain lusuh. Di samping Huo Li, anaknya bernama Huo Jun berjalan dengan angkuhnya. Tatapan wanita tua itu penuh rasa angkuh, bibirnya menyunggingkan senyum sinis.

"Enak ya kalian pagi-pagi begini sudah bermesraan," katanya sinis. Tanpa basa-basi, dia melempar bungkusan besar yang dibawa oleh pembantunya ke arah wanita yang duduk tadi. "Cuci pakaian ini! Aku tidak peduli bagaimana caramu menyelesaikannya, yang penting semuanya harus bersih sebelum sore!"

Wanita yang sedang duduk itu, dikenal sebagai Yun Qing oleh penduduk desa,mengangkat wajahnya sejenak. Matanya berkedip cepat, menahan perasaan tertekan, tapi dia tetap diam dan hanya menunduk. Nama asli Yun Qing di dimensi lain adalah Jelita, namun di dunia ini, dia hanyalah seorang wanita sederhana yang sering menjadi sasaran perlakuan kasar.

Flashback

Ledakan portal dimensi membuat semua orang terlempar ke berbagai arah, bagaikan daun yang diterbangkan badai. Jelita terbangun dengan kepala berdenyut hebat, tubuhnya penuh luka ringan, sementara tanah di sekitarnya retak-retak akibat kekacauan energi yang sebelumnya melanda.

“Lynx... Leena... Narendra...” Jelita memanggil nama mereka satu per satu, suaranya parau. Dia memandang ke sekeliling, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

Namun, tidak jauh darinya, ia melihat sosok familiar,Lynx,tergeletak tidak sadarkan diri di bawah pohon besar. Napasnya terlihat berat, dan tubuhnya penuh luka. “Lynx!” Jelita merangkak ke arahnya, tangannya gemetar saat memeriksa denyut nadi Lynx. “Kamu masih hidup…” gumamnya lega.

Dengan tenaga yang tersisa, Jelita memanggul tubuh Lynx yang lebih besar darinya. Ia berjalan tertatih-tatih, menyusuri hutan yang sunyi, hingga akhirnya melihat sebuah pondok kecil dengan atap jerami di kejauhan. Cahaya lampu minyak yang redup memberikan secercah harapan.

Pondok itu dihuni oleh seorang wanita tua bernama Nyonya Yun, seorang penduduk desa miskin yang hidup sebatang kara. Saat Jelita mengetuk pintu, Nyonya Yun membukanya dengan hati-hati. Matanya yang keriput memandang penuh curiga pada Jelita dan Lynx yang pingsan di punggungnya.

“Apa yang kalian lakukan di sini, di tengah hutan?” tanya Nyonya Yun dengan nada tegas, tetapi ada kebaikan yang terpancar di balik suaranya.

“Tolong… kami hanya butuh tempat untuk beristirahat. Dia tidak sadarkan diri,” pinta Jelita dengan suara serak.

Nyonya Yun terdiam sejenak, memandang wajah Jelita yang kelelahan dan tubuh Lynx yang tidak sadarkan diri. Akhirnya, ia menghela napas panjang. “Masuklah. Tapi hanya untuk malam ini.”

Jelita membantu Lynx masuk ke dalam, dan Nyonya Yun memberinya secangkir teh hangat. Jelita kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya mengenai serangan naga, pulau yang hancur dan portal dimensi, tetapi ceritanya terdengar terlalu fantastis untuk dipercaya. “Kami berasal dari tempat lain, kami pindah kesini dengan portal dimensi setelah... setelah suatu kejadian besar,” ucap Jelita dengan jujur.

Nyonya Yun memandangnya dengan ragu. Nama Jelita yang asing dan cerita tentang ledakan dimensi membuatnya semakin curiga. “Orang ini mungkin hanya pengelana dengan cerita karangan,” pikirnya. Namun, keesokan harinya, setelah melihat wajah Lynx dan Jelita dan pakaiannya yang sangat berbeda dari orang-orang di sekitarnya, serta kehadiran mereka yang tiba-tiba di tengah hutan, Nyonya Yun mulai ragu pada penilaiannya sendiri.

Ketika Lynx akhirnya sadar, ia tampak bingung dan tidak ingat apa pun. “Aku siapa?” tanyanya dengan suara lemah, matanya yang kosong memandang ke arah Jelita dan Nyonya Yun.

Kondisi Lynx yang kehilangan ingatan membuat Nyonya Yun merasa iba. “Kalian pasti berasal dari tempat yang jauh sekali. Jika kalian tetap menggunakan nama asing seperti itu, kalian akan menimbulkan kecurigaan di desa ini,” katanya.

Jelita setuju, menyadari bahwa mereka harus beradaptasi. Nyonya Yun memberi nama baru kepada Jelita, mengadopsinya sebagai anak angkat dan memberinya nama Yun Qing, mengikuti marganya sendiri. Karena penampilan Lynx yang lebih berbeda lagi, Nyonya Yun menyarankan untuk menjadikannya suami Yun Qing. Lynx pun diberi nama baru, Xiao Lin.

Setelah beberapa hari bersama, Jelita melihat keanehan dari Lynx, dalam beberapa jam, ingatannya Lynx akan bermasalah, dan dia mulai lupa lagi dengan informasi yang diberikan.

Beberapa bulan kemudian, setelah Jelita dan Lynx mulai terbiasa dengan kehidupan barunya, Nyonya Yun mengajak mereka kembali ke Desa Lianhua. “Kalian akan tinggal bersamaku di desa. Aku akan memperkenalkan kalian sebagai keluargaku,” ujarnya.

Setibanya di desa, Nyonya Yun menceritakan kepada para tetangga bahwa Yun Qing adalah anak angkatnya yang baru kembali dari Desa Baiyun, sebuah desa jauh di utara, bersama suaminya, Xiao Lin, yang mengalami kecelakaan hingga kehilangan ingatan. Cerita itu diterima dengan biasa saja oleh penduduk desa, karena kasus seperti itu cukup sering terjadi di dunia mereka yang keras dan penuh bahaya.

Namun, meskipun Lynx kehilangan ingatannya, ada sesuatu yang tetap ada dalam dirinya—sifat pelindungnya. Dia sering membantu Jelita ketika melihatnya kesulitan, meskipun kadang tindakannya sederhana, seperti membelah kayu atau memperbaiki peralatan di rumah Nyonya Yun. Jelita diam-diam bersyukur karena, meskipun keadaan sulit, dia masih memiliki seseorang yang bisa dia andalkan.

***

"Kalau aku jadi kamu," dengus Huo Li dengan suara sinis, "aku sudah meninggalkan suami tak berguna seperti dia. Usia segitu, masih saja bergantung pada istri! Hilang ingatan? Itu hanya alasan untuk bermalas-malasan!"

Jelita menatap tajam ke arah Huo Li. "Kamu boleh menghinaku, Nyonya Huo, tapi aku tidak akan membiarkanmu menghina suamiku," katanya dengan nada tegas, tak mampu lagi menahan amarah.

Huo Li terbelalak marah mendengar ucapan Jelita. "Beraninya kau memandangku seperti itu! Jangan lupa, kalau bukan aku yang memberimu pekerjaan, kau dan suamimu sudah mati kelaparan di desa ini!" bentaknya sambil menunjuk tajam.

Sementara itu, Huo Jun, yang sejak tiba terus memandang Jelita dengan sorot mata penuh ketertarikan, segera melangkah maju untuk menghentikan ibunya. Dia selalu mencari celah mendekati Jelita, meski berbagai cara liciknya selama ini selalu gagal. Kesempatan ini, menurutnya, adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan perhatian.

"Ibu, jangan terlalu keras pada Yun Qing. Dia hanya lelah karena keadaan ekonominya yang sulit," katanya dengan nada lembut, mencoba meredakan amarah ibunya. Kemudian, dia menatap Jelita dan berkata dengan senyum manipulatif, "Yun Qing, sebaiknya kamu minta maaf pada ibuku. Aku yakin ini akan membuat semuanya lebih mudah untukmu."

Huo Jun bahkan sempat mengedipkan sebelah matanya, memberi kode seolah sedang berpihak pada Jelita.

Jelita terdiam sesaat, menimbang situasinya. Ia tahu betapa ia membutuhkan pekerjaan ini, bukan untuk makan, tetapi untuk membeli obat yang mungkin bisa membantu memulihkan ingatan Lynx. Hidup di hutan telah mengajarinya bertahan dengan apa yang diberikan alam, tetapi untuk hal-hal medis, kemampuan dan ilmunya tidak cukup menghadapi dunia yang berbeda ini. Dengan berat hati, ia akhirnya menundukkan kepalanya.

"Nyonya Huo, aku meminta maaf atas sikapku tadi, aku tidak akan mengulangi." katanya dengan suara pelan, menekan emosi yang masih membara di hatinya.

Huo Li mendengus puas. "Bagus kalau kamu mengerti posisimu. Ingat! Semua pakaian itu harus selesai sore nanti. Kalau tidak, aku akan mencari orang lain untuk menggantikanmu," katanya tajam sebelum berlalu pergi.

Huo Jun yang masih berdiri di sana, tersenyum lebar ke arah Jelita. "Yun Qing, jangan ambil hati ucapan ibuku. Dia hanya mengkhawatirkanmu. Lagipula, dia ingin yang terbaik untukmu."

"Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Muda Huo Jun. Tapi aku dan suamiku baik-baik saja. Kalau tidak ada hal lain, aku harus segera menyelesaikan cucian ini," jawab Jelita dengan sopan, tetapi dingin. Ia mengangkat bungkusan besar pakaian itu dan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.

Merasa diabaikan, Huo Jun mendengus kesal. Matanya beralih ke Lynx, yang sedang menyapu halaman dengan tenang. Dengan sengaja, dia menendang sampah yang sudah dikumpulkan Lynx, membuatnya berhamburan. "Aduh, Xiao Lin, aku tidak sengaja. Kuharap kamu tidak marah," katanya dengan nada pura-pura menyesal, tetapi senyumnya menunjukkan niat lain.

Lynx menatapnya dengan tenang, sama sekali tidak terganggu oleh perilaku itu. "Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Aku bisa membersihkannya lagi," jawabnya singkat sambil membungkuk untuk mulai mengumpulkan sampah itu kembali.

